//
you're reading...
Lain-lainnya

Interview Linonipi

Berikut ini adalah hasil wawancara Linonipi yang akan dimuat di zine kompilasi tentang rumah info dan ruang otonom di Asia Tenggara. Selain Linonipi, rencana wawancara juga akan dilakukan dengan Instituta di  Jakarta, Dandelion di Bandung, Gerbong Revolusi di Kulon Progo, Kinayahan Unahon di Davao dan Ettnikobandido di Manila (filipina), Gudang Noisy di Malaysia dan Blackhole 212 di Singapura.

1. Sudah berapa lama rumah info linonipi berdiri? Sebelumnya ada rumah info yang mirip kan? Bisa ceritakan bagaimana perjalanan kalian mendirikan rumah info linonipi ini? Juga tolong gambarkan sejarah ruang otonom di Makassar selama beberapa tahun terakhir.

Kami menempati tempat ini sejak 11 November 2010, berarti hingga bulan maret 2011 sudah terhitung 5 bulan rumah info Linonipi ini berdiri.

Sebelumnya ada rumah info juga bernama Idefix, tetapi belum memakai konsep seperti di rumah info yang sekarang. Terkhusus di bagian ruang terbuka dan diskusi/kelas yang kami adakan secara berkala di tiap bulannya.  Kegiatan-kegiatan di dalamnya, juga di bagian penyediaan informasi berupa buku, jurnal, zine, literasi atau yang melalui media berupa website untuk dapat diakses secara terbuka ke semua orang dan masih banyak lagi perubahan-perubahan yang kami lakukan di rumah info yang sekarang. Idefix sendiri dulunya terkonsentrasi pada kegiatan perpustakaan umum dan penjualan buku serta tempat diskusi. Idefix berjalan beberapa tahun hingga menjadi Linonipi.

Berawal dari pembicaraan kecil di antara kami untuk membuat rumah info. Karena kami menyadari pentingnya keberadaan rumah info bagi pergerakan anti-otoritarian di sebuah tempat dan di Makassar sendiri masih sulit menemukan ruang terbuka untuk mengadakan pertemuan, rapat, konsolidasi aksi, dan kegiatan-kegiatan yang lain terkhusus bagi pergerakan-pergerakan anti-otoritarian itu sendiri ataupun  gerakan-gerakan oposisi dan komunitas-komunitas radikal yang lain, para aktivis lingkungan dan bahkan untuk gerakan-gerakan kiri sekalipun. Dan kami pun memulainya dengan berbekal semangat dan kemauan yang kuat, mengadakan benefit gig untuk pencarian dana, mengamen, mengadakan bazar makanan, mencari donasi dari kawan-kawan dan usaha-usaha otonom yang lain hingga terkumpul dana yang kemudian kami pakai untuk menyewa rumah walaupun harus meminjam juga karena dana yang di target belum mencukupi. Menemukan rumah yang strategis dan dengan biaya penyewaannya yang murah agak sulit ditemukan di Makassar dan saya rasa di kota-kota besar lainnya di seluruh dunia pun seperti itu. Akhirnya kamipun memilih sebuah rumah yang berada di pemukiman padat penduduk di belakang SPBU pintu 2 kampus UNHAS yang agak luas, mudah dijangkau, dan masih tergolong murah untuk ukuran rumah dengan tujuh jumlah ruangan. Segala keperluan untuk peluncuran di persiapkan hingga akhirnya launching/open house pun diadakan tanggal 11 November 2010 pada pukul 3 sore, dihadiri beberapa teman dari komunitas-komunitas dan kolektif-kolektif di Makassar, tetangga dan warga sekitar Linonipi, kami juga kedatangan band reggae The Paps asal Bandung yang kebetulan pada saat itu sedang mengadakan perform di Makassar. The Paps sebelumnya di rencanakan untuk perform di open house Linonipi tapi karena satu dan lain hal kami hanya bisa sharing dengan personil-personil bandnya dan ternyata salah seorang di antaranya pernah aktif di kolektif lokal di Bandung. Open house berjalan baik, lancar, dan aman. Acara yang terakhir ditutup dengan sesi sulap oleh kawan kami si pesulap amatiran bernama Macan yang kocak dan enerjik, semua orang tertawa karena ulahnya dan open house pun berakhir pukul 10 malam.

Di beberapa tahun terakhir ini, ruang otonom, rumah info, wadah komunitas, ataupun tempat untuk melaksanakan pertemuan-pertemuan  dan untuk mengakses bahan bacaan radikal dan anti-otoritarian hadir di Makassar. Seperti Malcom di daerah kampus STMIK Dipanegara, Kolektif Hypnosis di Jalan Macan sebelah utara Makassar, dan Linonipi sendiri di Jalan Perintis Kemerdekaan depan kampus UNHAS Tamalanrea Makassar. Ini menandai pergolakan semangat anak muda Makassar untuk membuat proses revolusi terjadi, menuju perubahan sosial yang lebih cepat dan lebih hebat. Seperti halnya kecintaan kami terhadap hidup dan untuk menjalaninya dengan lebih hidup. Kami telah memulainya lama dan terus berlanjut hingga hari ini, esok, dan seterusnya.

2. Kenapa penting ada rumah info untuk gerakan anti-otoritarian / anarkis? Kalian merasa ada kekurangan ketika tidak ada tempat seperti ini?

Saya rasa keberadaan rumah info sangat berperan penting bagi gerakan-gerakan anti-otoritarian di sebuah tempat. Rumah info membantu akses informasi dalam hal bahan bacaan, literasi dan berita-berita terbaru yang ada, juga ruang terbuka untuk menggelar pertemuan, rapat, memfasilitasi aksi dan kegiatan-kegiatan yang lain. rumah info sangat penting mengingat tidak adanya lagi ruang terbuka yang bisa digunakan dengan gratis. Rumah info juga menjadi wadah dimana ide-ide, gagasan, atau proses kerja sama untuk mengadakan aksi, kampanye, mengadakan gig ataupun solidaritas festival di terima dan diaspirasikan bersama. Jelas ini akan membantu eksistensi pergerakan itu sendiri. Orang-orang datang kesini untuk membaca atau membeli literatur yang ada, menonton film, bertukar informasi, berdiskusi, atau hanya sekedar nongkrong.

Kita tahu bahwa gerakan anti-otoritarian sebagai oposisi Negara dan otoritas serta semua institusi yang bernaung di bawahnya menjadi sesuatu yang vital bahkan sulit diterima bagi kebanyakan orang, individu-individu atau masyarakat yang telah terkungkung di dalam lingkaran Status Quo pemerintahan dan korporasi yang menindas. Itu berarti Negara akan menekan ruang gerak bagi mereka yang akan melawan sistem yang telah ada sekarang. Rumah info kemudian menjadi nyala api harapan yang membuat hasrat memberontak itu tetap membara dan kemudian memungkinkan pergerakan-pergerakan itu untuk tetap eksis. Rumah info menjadi ruang yang aman untuk melakukan pertemuan bagi kelompok-kelompok radikal juga menjadi media komunikasi untuk menghubungi infoshop dan kolektif-kolektif yang lain dalam sebuah kasus penggusuran, penembakan, serangan fasis, atau permasalahan buruh pabrik yang kemudian dapat mengorganisir atau memobilisasi aktivis lokal, membangun jejaring dan mengadakan aksi.

3. Kegiatan apa yang ada di dalam? Apa rencana untuk kedepannya?

Banyak, seperti layaknya rumah info-rumah info yang lain yang ada di seluruh tempat, seperti kelas yang berperan sebagai pendidikan alternatif dan proses penyaluran keterampilan. biasanya kelas diadakan untuk hal-hal yang intens dan berkala seperti kelas rajut, kelas desain graphis, dan lain-lain. Workshop atau pelatihan, seperti workshop sablon, cukil, perbaikan sepeda/motor, membuat wine, membuat zine, membuat kesenian dengan mendaur ulang barang bekas dan lain-lain. Mengadakan diskusi bebas atau tematik untuk membahas suatu masalah atau mengangkat satu topik untuk dibicarakan bersama-sama. Di Linonipi kami membentuk diri kami agar lebih kritis, maka dari itu kami menolak bentuk proses pembelajaran dengan struktur tunggal seperti halnya metode pembelajaran terpusat yang akan meniadakan kreatifitas, jiwa kritis, dan kemandirian individu. Linonipi juga mengadakan nonton film bersama secara berkala, bedah buku dan ada juga ruang perempuan. ruang perempuan adalah tempat dimana kita bisa saling sharing dan belajar bersama, bercerita, bercanda ataupun curhat perihal berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari, tentang reproduksi seksual, kesehatan, kesetaraan gender, tentang pacar atau apapun, tidak hanya perempuan laki-laki juga bisa bergabung di ruang perempuan ini. Kami juga menggelar Food Not Bomb dan Lapak Gratis secara berkala, mengadakan gig dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatn kreatif dan menyenangkan yang kami buat di Linonipi yang non profit, otonom, tanpa hirarki, rasis, fasis, yang tentunya gratis untuk semua. Siapapun yang mengetahui atau memahami tentang subjek tertentu misalnya genealogi kekuasaan atau perbaikan sepeda praktis, dapat mengatur jadwalnya di sini untuk membuat kelas belajar bersama atau berupa workshop. Belum ada rencana-rencana pasti untuk kedepannya, kami hanya berharap agar rumah info ini tetap berjalan.

4. Di gerakan-gerakan sosial di Indonesia, termasuk gerakan anarkis, sering ada lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Di Linonipi saya lihat partisipasi perempuan lebih tinggi dibanding tempat lain. Bagaimana bisa terjadi begini? Kalian pernah membahas soal gender dan partisipasi dalam kolektif linonipi?

Yah, kami menyadari bahwa stereotipe gender, diskriminasi, dan dominasi laki-laki terhadap perempuan masih saja terus terjadi, bahkan di sekitar kita, di kampus, di keluarga, di jalan, dan dimana saja, perempuan masih saja disudutkan, dianggap sebagai mahluk yang lemah, dijadikan objek dan di tempatkan pada posisi yang inferior. Di tambah lagi dengan budaya adat terutama di Makassar sendiri yang cenderung patriarki, lalu agama melengkapinya melalui moralitas dan norma-normanya di masyarakat. Separuh dari kami yang mengelola Linonipi adalah perempuan, sebagian masih kuliah, ada yang kerja, ada juga yang telah menikah. Kami sering mengadakan diskusi membahas kesetaraan gender serta peran dan pertisipasi perempuan tiap minggunya, yaitu di ruang perempuan atau di pertemuan yang lain sebagai usaha kami untuk mewacanakannya ke semua orang, kami pun menerapkannya dalam kehidupan harian kami, di Linonipi, di sekolah, dan dimana saja. Dimulai dari hal-hal yang sederhana, di Linonipi kami berbagi peran secara adil dengan prinsip-prinsip egalitarian dan mutual-aid  tanpa memandang gender, berprilaku, atau preferensi yang ditentukan atau terikat oleh apakah dia seorang lak-laki atau seorang perempuan seperti memasak, membersihkan, pergi ke pasar, mencuci piring dan lain-lain. karena sepantasnya tidak ada yang membedakan perempuan dan laki-laki secara sosial atau politik selain untuk melahirkan dan menyusui.

5. Di Linonipi ada tempat membaca dan banyak orang dalam lingkaran juga terlibat dalam kegiatan menulis (untuk web, jurnal kontinum, serum). Bagaimana kamu lihat informasi tertulis sebagai alat perjuangan? Apa efeknya konkrit kamu lihat di Makassar.

Informasi tertulis hadir sebagai bagian dari upaya kami dalam mewacanakan ide-ide dan materi anti-otiritarian. Sebagian dari kami menulis untuk jurnal SERUM yang diterbitkan secara berkala dan di distribusikan ke semua orang secara gratis, juga untuk website KONTINUM dan LINONIPI. sebagain juga membuat zine, poster propaganda, menerjemahkan artikel, buku, film, dan proyek-proyek individual yang lain yang bertujuan untuk meramaikan dan menyuburkan pergerakan dan aktivisme anti-otoritarian yang kemudian berefek dengan bermunculannya kolektif-kolektif, ruang otonomis,  atau bahkan rumah info baru.

6. Salah satu hal yang saya anggap sangat bagus di Linonipi adalah hampir semua orang menulis? Di banyak tempat lain, orang jarang percaya diri untuk menerbitkan tulisannya. Bagaimana mencapai hal itu? Kalian saling membantu dalam tulisan?

Yah, kami saling membantu dan saling mendukung untuk mengerjakan jurnal atau buku, begitu pun dengan  proyek-proyek pribadi seperti membuat zine atau menerjemahkan artikel untuk diterbitkan, ada yang membantu dalam hal me-layout, ada juga yang membantu dalam hal  kosa kata atau istilah terminologi. Kami bisa bekerja bersama secara kolektif dalam mengerjakan sesuatu, kami juga bisa bekerja secara personal atau individu per individu, Sebuah bentuk kerja sama mutual.

7. Bagaimana bayar uang sewa linonipi? Bagaimana cara yang paling cocok untuk dapat kebutuhan uang?

Karena kami no funding dan tidak bekerja sama dengan institusi manapun dan apapun maka kami berusaha membangun basis ekonomi alternatif kami sendiri. Dengan membuat rumah produksi dan distribusi percetakan, Di Linonipi kami juga membuat koperasi akar rumput, membuat iuran harian untuk membiayai listrik dan air. Menjual buku, zine dan T-shirt, mengerjakan proyek-proyek terjemahan, patungan, dan donasi dari sukarelawan anonim. Kami juga berencana akan membuka kios distribusi beras dengan harga murah di Linonipi dengan membelinya langsung dari petani. Membangun basis ekonomi alternatif adalah salah satu praktek dari ide-ide anarki yang otonomi dengan prinsip DIY, juga menjadi sebuah usaha kongkrit untuk melawan sistem kapital yang semakin menyesakkan.

8. Bagaimana bentuk kolektifnya? Kolektif tertutup atau orang lain juga bisa ikut bergabung? apakah ada pertemuan untuk membicarakan keberlanjutan Linonipi? Bagaimana cara mengambil keputusan?

Semua orang bisa datang dan terlibat di rumah info ini tanpa memandang suku, agama, kewarganegaraan, dan latar belakang secara sosial dan politik. Pertemuan untuk membicarakan agenda bulanan di adakan setiap bulan. Kami juga mengadakan rapat evaluasi sekali dalam beberapa bulan untuk membicarakan proyek yang telah berjalan dan yang belum. Pengambilan keputusan dilakukan dengan melalui cara demokrasi langsung dalam pertemuan rutin dan ada kecenderungan untuk menggunakan konsensus, meskipun hal ini bukanlah sesuatu yang mutlak.  Tidak ada ketua atau pemimpin disini. semua anggota atau individu-individu yang aktif dan secara langsung terlibat di Linonipi berhak untuk bersuara dan menyatakan pendapatnya, tidak ada yang memiliki posisi digaji, semua bekerja secara sukarela (voluntary participation).

9. Bagaimana hubungan dengan komunitas sekitar? Ada tetangga yang ikut kegiatan di Linonipi?

Respon warga sekitar dengan kehadiran kami cukup baik. Sejak awal, di open house Linonipi, warga sekitar telah dilibatkan. Kami menjalin ikatan emosional yang kuat, warga sekitar secara langsung atau tidak langsung ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan linonipi seperti ketika kami akan mengadakan tabling FNB, kami dapat meminjam peralatan-peralatan dapur dan keperluan-keperluan lainnya ke tetangga, begitu pun sebaliknya. Sebuah hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan. Kami berharap agar hubungan ini tetap terjaga dengan baik dan kami mencerminkannya dalam kehidupan dan aktivitas harian kami seperti sapaan ringan kami di pagi hari. Karena perubahan di mulai dari hal-hal kecil yang berada di sekitar kita.

10. Anak-anak sekitar suka main di linonipi? Apa mereka bisa dapat dari ruang otonom yang berbeda dari tempat lain?

Yah, banyak anak-anak sekitar yang datang kesini untuk menggambar, membuat origami, atau hanya sekedar bermain. Kami tidak berpikir untuk memberikan pelajaran seperti layaknya sekolah kepada anak-anak. Karena saya pikir itu akan sangat membosankan, meraka pun akan merasakan hal yang sama. Dan saya yakin mereka tidak akan tertarik sama sekali atau bahkan tidak akan mau lagi muncul di rumah ini ketika kami mengadakan sekolah bagi mereka. Mereka hanya ingin bermain dan disini mereka mendapatkannya. Bermain adalah proses belajar yang sangat menyenangkan.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: